What’s Ahead of Us
July 8, 2010
Kmaren ini emang cukup sucks sih kena macet selama satu jam padahal cuma ke Kemayoran dan balik lagi k Sunter. Yang harusnya max 15 menit, masa bisa jadi 1 jam, parah banget. Dan ketika di dalem mobil yg ga bisa jalan kmana-mana, I think of something. Something about bagaimana seharusnya kita mengharapkan sesuatu dan menanggapi apa yg akan terjadi di masa mendatang. Kadang kita mengharapkan sesuatu untuk berjalan sesuai keinginan kita dan end up happy ending. Terkadang kita pun memikirkan terlalu jauh hal-hal yang buruk, yg negatif yg belom tntu di masa mendatang akan buruk, mungkin bisa terjadi sebaliknya, malah bisa menjadi baik dan kita mengambil keputusan di awal dan akhirnya kita menyesal pada keputusan kita sendiri. Dan semua kembali kepada satu hal, yaitu we can’t turn back the time. Yang bisa kita lakukan adalah menelaah hal yang sudah berlalu dan jadikan itu sebagai pelajaran yang membuat kita semakin bijaksana dalam menentukan sebuah pilihan.
Semisal, kita mengharapkan pekerjaan, karir, atau usaha kita akan berkembang menjadi besar di masa mendatang. Kita sudah mengimpi-impikan, berangan-angan akan melakukan ini, beli ini itu, pergi kesana kemari, pkoknya menikmati hidup. Dalam hal ini, mimpi dan harapan harus kita bangun setinggi-tingginya, namun effort dan usaha pun harus lebih tinggi dari harapan kita. Apabila hanya sebatas berandai-andai dan pada akhirnya tidak sesuai dengan harapan kita, yang ada kita hanya kecewa, bisa saja stress, atau menyalahkan Tuhan maybe. Gak cuma dalam pekerjaan, dalam segala hal pun harus seimbang dengan usaha yang kita berikan untuk mewujudkan harapan kita, bahkan hal sesepele apapun.
Atau mungkin sebaliknya, kita takut untuk menjalani sesuatu yg kita sendiri gak tau apa yang akan terjadi di depan. Yang ada, kita sudah buru-buru mengambil keputusan di awal dan tidak melanjutkan apa yg kita harapkan lagi. Membuang jauh-jauh harapan itu dan tidak akan mengais-ngaisnya lagi di tong sampah memory kita. Lalu hingga pada suatu saat, kita melihat bahwa impian kita di masa lampau itu bisa kita capai namun kita sudah membanting setir terlalu jauh dan kita hanya bisa memandang menyesal dari jauh. Mengandaikan seharusnya kita yg ada di posisi itu. Ujung-ujungnya hanya menyalahkan diri sendiri dan berharap waktu bisa kembali, but again, waktu tidak pernah berdetak mundur, selalu maju dan terus maju dan kadang terasa terlalu cepat untuk kita ikuti langkahnya. Untuk hal ini, bukan hanya karena keputusan kita sendiri, kadang kita melakukan kesalahan kecil yg berakibat fatal sehingga harus mengubur impian kita itu terlalu dalam dan menyesali sendiri perbuatan kita.
Dari pemikiran-pemikiran ini kemarin, gw harus memikirkan konsep baru yg mungkin bisa jadi konsep pemikiran gw untuk ke depan. Ya, dan konsep baru ini tentunya harus membuat gw lebih bijaksana dalam menghadapi berbagai hal yang masi abu-abu. Gw uda mengalami beberapa kali hal yg gw bahas di atas, terkadang berharap terlalu tinggi, ternyata gw kecewa, takut maju ke depan dan ternyata di depan lebih baik daripada harus memutar haluan. Dan gw da cukup capek untuk menyesal ini itu, nyalahin sana sini yg memang pada kenyataannya ga membawa kebaikan apapun buat gw. Ga bikin gw bijaksana, malah bkin gw sebagai seorang yg emosional pada akhirnya.
Selama stengah jam lebih, hampir satu jam gw merenung di mobil, dan ya, yang terbaik adalah bangun harapan setinggi mungkin begitu juga dengan effort kita, dan jadi seorang yg optimis akan masa depan. Things will get better in time, semua usaha gak akan sia-sia, yang sia-sia hanyalah menyesali hal yang gak akan kembali, yaitu waktu. Lebih baik menatap tajam dengan visi ke depan ketimbang harus menatap ke depan dengan pikiran masa lalu. Hal-hal yang uda berlalu di masa lalu lebih baik dijadikan pelajaran berharga yang membuat kita makin bijaksana. Namun jangan hanya belajar karena sudah melalui sebuah masa, pelajaran hidup pun akan banyak didapat ketika melangkah dalam hidup kita. Tapi jangan juga menjadikan kita terlalu ekstra hati-hati, semua manusia pasti berbuat kesalahan dan bisa salah mengambil keputusan untuk langkah ke depan, yang terpenting adalah bagaimana kita sebagai manusia untuk bangkit dari keterpurukan dari kesalahan yang kita buat, dan kembali menjadi seseorang dengan hidup yang berkualitas. Dan yang terpenting dari hal-hal ini adalah, jangan lupakan Tuhan. We make plans, but He decides which and when our plans that’s best to come true for us.