There’s More In Life Than Meets The Eye

November 3, 2010

Hey folks, sunday night (awalnya sunday night, tp baru selesein wednesday afternoon, hehe) always a great time to write this and that, hehe. Sebenernya ada kejadian yang gw liat kemaren dan bener-bener shows me memang happiness is above all things. Happiness around our loved ones is the important thing. Kemaren siang, sabtu 30 oktober 2010 lebi tepatnya, gw nganterin ade gw ke rumah temennya. On the way gw harus lewatin Sunlake Hotel. Nah di sini lah pemandangan yang menurut gw amat sangat indah, sayang gw ga bawa kamera untuk abadiin ini. Di samping Sunlake Hotel, gw liat ada seorang ibu lagi bercanda hangat dengan dua anak perempuannya di bawah pohon yang rindang. Dan momen itu dilakukan di atas trotoar cuma beralaskan tiker doank. Gw sempet terhenyak saat itu dan memikirkan, man, look how happy they are, gilaaa… hanya dengan keadaan seperti itu keliatan banget kebahagiaan mereka. Gw cukup yakin mereka bukan dari kalangan yang berada atau mungkin dua anak itu hanya satu-satunya si ibu punya saat ini. Bottomline, di tengah-tengah kekurangan mereka, mereka masi bisa dengan bahagianya menikmati hidup mereka.

After that gw refleksikan hidup gw selama 23 tahun ini. Bisa dibilang gw ga pernah hidup kekurangan, segalanya pasti cukup. Butuh dan mao apapun bisa dengan cepat gw dapatkan. That’s financially, other things, keluarga, teman-teman yang semua lengkap dan masi connect sampe sekarang, even got an amazing girlfriend yang membuat kehidupan gw makin lengkap. Tapi terkadang gw masi mengeluhkan banyak hal yang sebenrnya ga penting dan ga guna sama sekali untuk dikeluhkan. Sekarang gw sadar, why waste time complaining about this and that? Masi pengen ini itu, ngiler ini itu, padahal ga sadar uda punya berbagai hal yang bahkan engga ternilai harganya. What I saw last Saturday really really open my eyes. Yang awalnya gw sempet mengeluhkan hal-hal yang bersifat material, but now, ya, it doesn’t really matter that much, at least now it’s not a main vision of my life. Berkelimpahan secara material tapi ga punya keluarga, ga punya temen, what’s the meaning of life then? Amit-amit tapi yee… *knock on wood*.

Beberapa waktu yang lalu sering sekali bercakap dengan beberapa orang dan kolega about how you got to be rich, kaya yang gila-gilan. Dan mungkin kaya yang mereka pikirkan itu kaya yang gak masuk akal, kaya macem Bill Gates or Richard Branson yang emang dua orang itu bisa dibilang orang yang gak masuk akal dilihat dari masa lalu dan kerja keras mereka. But still, nothing is impossible, but the question kalo kita hanya bertumpu untuk menjadi kaya, kaya dan kaya, adalah, sampe kapan? The question is not about how but when. Sampai kapan kita hidup dengan bervisikan kaya. Well, semua orang pasti pengen kaya, but it’s not the only aspect in life. Kalo kita ketiban rejeki, usaha maju, kerjaan di kantor mantep, jabatan langsung terbang ke CEO, semua pasti pengen dan itu berkah banget. Tapi di luar itu, apakah kita juga ‘kaya’?

Kaya yang meggiurkan adalah kaya materi, namun aspek lain, apakah kita kaya akan teman? Kaya akan tujuan hidup? Kaya akan ilmu? Kaya akan kebahagiaan? Hal bullshitnya, kaya akan cinta? Menjadi kaya secara materi adalah impian setiap orang. Berarti gak kekurangan ini itu, mao apa tinggal beli, ga ada barang tinggal pesen, bosen rumah itu-itu aja tiap minggu bongkar, enak? Enak bos… What a life… Tapi apa meaningnya tanpa kita memperkaya diri kita dengan aspek penting lainnya dalam kehidupan kita. Beberapa hari yang lalu ada pemberitaan tentang Bon Jovi, yang mengatakan bahwa dia bosan hidup. See, contoh konkrit, someone yang sudah mapan, famous, record selling uda juta-jutaan copy, money is not the problem for him. Alasan dia karena dia bosan dengan kehidupannya yang itu-itu saja. Kaya akan materi tapi gak kaya akan keragaman dalam hidupnya. Bosan dengan rutinitas. Pada akhirnya, dia gak melihat the point of life, padahal mungkin dia bisa melakukan banyak hal di tengah kesuksesannya.

Gw bersyukur dengan apa yang gw liat saat itu, membuka mata gw lebih lebar lagi kalo There’s More In Life Than Meets The Eye. Mata kita terlalu haus dengan hasrat kebendaan, tapi sekali lagi, ada banyak yang lebih dari apa yang bisa dilihat oleh mata. Meski sudah terpenuhi, hasrat akan kebendaan dan materi ga akan pernah abis, pasti selalu haus. Alangkah baiknya kalo kita haus akan hal yang lebih berharga dari itu. Hal yang mungkin ga bisa dilihat dan dirasakan dan bahkan ga ada harganya, tapi bisa memuaskan keinginan kita secara batiniah. Pemandangan terindah minggu lalu itu uda gw capture dengan kamera batin gw, sekaligus sebagai pengingat bahwa orang yang tidak berkecukupan tapi berkelimpahan kebahagiaan dapat menikmati indahnya hidup mereka tanpa memikirkan berapa banyak uang dan kekayaan yang harus didapet besok dan besok-besoknya lagi. Berkecukupan secara materi adalah impian semua orang, tapi jangan lupakan aspek penting laen dari hidup ini yang mengisi dan berhubungan satu sama lain. Karena kita sebagai manusia diciptakan dengan banyak potensi dimana kita harus mengisi seluruh aspek hidup ini dengan segala potensi yang ada. Perkaya diri kita dengan berbagai hal, jadikan diri kita kaya akan ilmu, teman, dan sebagainya dan seluruhnya akan bermuara pada sebuah kebahagiaan yang sesungguhnya. “There’s More In Life Than Meets The Eye”

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s